3 Cara Ampuh Membersamai Anak Menemukan Keunikannya

Oleh: Yeyen Robiah

Anak adalah sosok manusia mungil yang dianugerahi kesempurnaan sebagaimana manusia dewasa. Namun satu hal yang membedakannya adalah belum sempurna akal dan pikirannya. Peran orang tua, guru, teman dan lingkungan sekitarnyalah yang akan membentuk karakter mereka. Selanjutnya karakter mereka akan berpengaruh pada perkembangan akal dan pikirannya. Apakah akan berkembang ke arah yang positif atau ke arah yang negatif.

Anak itu juga manusia ciptaan Allah yang luar biasa. Diciptakan dengan segala keunikannya masing masing. Tidak ada satupun anak yang sama persis satu sama lain. Keunikan ini bisa berupa potensi ataupun kelebihan yang dimiliki masing masing anak. Dengan memahami bahwa anak itu memiliki keunikan,  maka tugas selanjutnya adalah mengenali, menggali dan menemukan keunikan tersebut agar bisa dimaksimalkan dengan baik. 

Setiap anak juga memiliki beragam keunikan. Bisa jadi masing masing anak tidak hanya memiliki satu atau dua keunikan namun bisa lebih dari itu. Keunikan keunikan ini nantinya yang akan menjadi sebuah passion yang akan disukai bahkan digeluti di masa dewasanya nanti. Maka dari itu, membersamai anak untuk menggali dan menemukan keunikannya ini sangat penting bagi orang tua. 

Lalu bagaimana cara kita membersamai anak untuk menemukan keunikan dirinya?  Berikut ini ada 3 cara yang  bisa kita coba. 

1. Peka terhadap perkembangan fisik, mental dan emosi anak

Orang tua adalah orang yang paling banyak waktunya bersama anak. Sehingga sudah semestinya merekalah yang bisa memahami dan mengerti kebutuhan fisik dan mental anak anaknya. Untuk memahami dan mengerti kebutuhan anak, orang tua dituntut peka terhadap perkembangan dan perubahan mereka. Kepekaan inilah yang perlu diasah secara kontinyu. Ketika ada alarm yang muncul pada diri sang anak, orang tua bisa meresponnya dengan baik dan tepat. Misal ketika anak berbuat salah, ini bukan mutlak keinginan anak untuk berbuat salah, bisa jadi anak hanya butuh perhatian saja.  Atau ketika anak tiba tiba menjadi pendiam, bisa jadi mereka butuh validasi emosinya, teman curhat dll. Kepekaan seperti inilah yang membuat kebutuhan anak terpenuhi dengan baik sehingga mereka merasa diperhatikan dan siap diarahkan ke arah yang lebih baik. Kesalahan ataupun kekurangan mereka bisa diminimalisir sedangkan kelebihan mereka bisa dimaksimalkan dengan baik. 

2. Melakukan diskusi atau konsultasi pendidikan dengan bapak ibu guru di sekolah dan pasangan kita.

Keunikan anak yang berupa potensi atau kelebihan bisa kita deteksi lebih dini jika kita bisa berkolaborasi dengan pihak pihak terdekat dan berpengaruh pada anak, yaitu bapak ibu guru di sekolah dan pasangan kita. Kolaborasi ini bisa berupa diskusi, konsultasi dan evaluasi bersama. Berkolaborasi dengan pihak pihak yang berkompeten seperti bapak ibu guru sangat dianjurkan. Karena selain di rumah, anak anak juga banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Segala informasi bisa kita gali, kita olah dan kita jadikan feed back dalam kita membersamai anak menemukan keunikan atau passionnya. 

Sedangkan  berdiskusi dengan pasangan (suami atau istri kita) bisa berupa penyegaran kembali visi misi keluarga. Apakah visi misi yang sudah disepakati di awal pernikahan sudah terealisasi atau belum. Apakah hak anak mendapatkan kasih sayang, pendidikan dan kebutuhan lainnya sudah terpenuhi. Ngobrol bareng pasangan ini bisa dilakukan dengan komunikasi yang sifatnya serius tapi santai. 

3. Deep talk

Di tengah tengah kesibukan orang tua sehari hari, mungkin perlu kita luangkan waktu untuk ngobrol berdua saja dengan  anak kita. Kita bisa jalan berdua, makan berdua, beli es krim berdua, nonton film berdua dan akhirnya ngobrol berdua. Kegiatan ini selain untuk santai bersama anak juga bisa  mempererat bounding orang tua dan anak. Kita bisa saling curhat, terbuka dan tentu saja endingnya kita bisa menggali apa saja kemauan anak, kebutuhan anak, masalah anak dan solusinya. Orang tua bisa menjalin komunikasi yang sehat dan intens dengan anak. Sehingga dari komunikasi yang hangat, deep dan terbuka inilah, potensi, keunikan atau passion anak mulai dikenali, ditemukan dan siap dioptimalkan. 

Finally, sebagai orang tua jangan mudah berputus asa jika mendapatkan anaknya sekarang belum pintar, belum baik, ataupun belum mandiri dan bertanggung jawab. Perjalanan hidup ini masih panjang dan masih ada harapan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Tetap optimis bahwa anak anak itu fitrahnya suci, baik dan bersih. Maka tugas kita adalah mengembalikan dan mengarahkan mereka untuk tetap dalam koridor Islam dengan usaha yang sungguh sungguh.  Mengarahkan potensi dan keunikan anak dengan baik dan benar sehingga memberi maslahat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan umat.

Akhirnya, kita harus yakin bahwa dengan niat yang lurus dalam mendidik anak akan menjadikan amal jariyah bagi orang tuanya. Kita berharap kebersamaan  tidak hanya di dunia tapi kebersamaan dengan orang orang tercinta kita akan sampai juga di surga Nya kelak. Aamiin.


(Coretan kecil dari pertemuan rutin konsultasi belajar dan penerimaan hasil Penilaian Harian atau Asesmen Sumatif dan Penilaian Tengah Semester kelas 3B dengan wali kelas bapak Rofiq Arifianto, SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta, 4 November 2023, dengan sedikit tambahan bersumber dari pengalaman pribadi penulis)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah dari Ruang IGD