Memaknai Sebuah Episode Dalam Rumah Tangga



Ibuโ€ฆ Ibu pernah bertengkar dengan suami? Atau pernah berselisih paham dengan suami? Pertengkaran ataupun perselisihan dalam rumah tangga itu hal yang wajar selama masih bisa dikendalikan dan tidak menjurus pada hal yang membahayakan. Namanya juga dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, isi kepala yang berbeda dan isi hati pun berbeda, sedikit kurang pas atau kurang sreg itu pasti ada. 

Sejenak kita ingat episode episode pertengkaran kita atau perselisihan kita dengan suami. Hal apa saja yang biasanya memicu kejadian itu? Kapan saja biasanya terjadi? Dan dalam keadaan yang bagaimana biasanya terjadi? 


Pertanyaan pertanyaan diatas jika kita jawab dengan jujur maka akan muncul gambaran jelas beberapa episode pertengkaran kita dengan suami. Layaknya sebuah film, kejadian itu mulai bermain main lagi di pikiran kita. Tempatnya, waktunya, permasalahannya dan raut raut wajah seperti apa yang terpampang waktu itu. Dan biasanya rasa sakit, kecewa, marah, dan sedihnya pun muncul lagi. 


Tenang ya Buโ€ฆtenang saja. Rasakan saja rasa rasa itu secukupnya. Rasakan sewajarnya, tak perlu dalam dalam. Mari kita lanjutkanโ€ฆ


Setelah sekilas kita membayangkan apa yang terjadi, kapan, dan bagaimana pertengkaran itu terjadi, mari coba bayangkan apa saja sih yang kita lakukan saat kita bertengkar dengan suami? Apakah kita ngomong terus menerus? Atau kita diam saja? Lalu waktu itu sikap suami juga seperti apa? Apakah main tangan? Kekerasan verbal? Atau diam saja? 


Lalu, menurut ibu nih, seharusnya bagaimana? Apa yang seharusnya dilakukan? Oh, saya seharusnya tidak memotong saat suami menjelaskan sesuatu. Atau, oh, seharusnya saya bertanyanya pelan pelan dan tidak seperti menginterogasi. Atau oh, oh, lainnya. 


Kira kira jika saya berbuat seperti ini itu anu,  pertengkaran yang terjadi akan memanas atau malah jadi adem? Dan sebenarnya kita itu pengennya yang panas panas atau adem adem sih?


Mana ada ya bu, suami istri kok pengennya bertengkar terus. Pengennya sih akur, kompak, harmonis dan syukur syukur bisa romantis seperti Nabi Muhammad dan Aisyah. Ademmm banget pokoknya๐Ÿ˜


Nah, kalau sudah ada gambaran keinginan berperilaku atau sikap yang bikin berantem tadi jadi adem, kira kira skill apa ya yang kita perlukan? Skill buat para ibu rumah tangga agar akur dan harmonis sama suami. Kalau bisa sih, jangan sampai berantem mulu, adu mulut mulu apalagi adu fisik, naudzubillah..

Hem, skill apa ya yang kita perlukan? Atau Ilmu dan informasi apa yang kita perlukan agar bisa ngobrol cantik dan santuy ama suami? Atau kepada siapa kita bisa belajar ilmu keluarga ini?


Bagaimana? Sudah ada bayangannya kan?


Nah, setelah kita membayangkan dan mendata skill, ilmu, dan informasi apa saja yang kita perlukan agar kita bisa menyikapi perselisihan dalam rumah tangga dengan bijaksana, kira kira kita harus punya mindset yang seperti apa agar semua itu terasa mudah untuk dilaksanakan? Kita tahu kan ya, pikiran, value, mindset atau keyakinan itu seperti bahan bakar untuk beramal atau untuk action. Dia yang akan menggerakkan kita untuk benar benar take action sepenuh hati. Coba mulai pikirkan dan temukan dalam hati dan pikiran kita. Mungkin keyakinan itu sudah ada dalam benak kita hanya kurang kita sadari saja. 


Misalnya nih, pernahkan kita dapat kajian dari ustadz atau ustadzah bahwa ketika kita berumah tangga itu tidak hanya di dunia saja tapi berharap bisa berkumpul juga kelak di surga? Duh pengen banget kan ya. Ada juga yang memberi wejangan kalau ibadah terlamanya manusia itu adalah berumah tangga. Selama kita berjibaku belasan ataupun puluhan tahun dalam berumah tangga, selama itulah segala akvitas kita dihitung sebagai ibadah. Masyaallah, luar biasa yaโ€ฆ


Keyakinan keyakinan seperti inilah yang sebaiknya kita tanamkan dan tumbuh suburkan dalam perjalanan berumah tangga. Keyakinan yang akan membuat kita semakin mudah melangkah, mudah berbakti dan mudah taat pada suami dan keluarga.


Lalu siapakah kita yang punya keyakinan seperti itu? Kembali kita merenung lebih dalam lagi. Menemukan jati diri yang sebenarnya. Jati diri yang selama puluhan tahun menghuni dunia yang penuh warna warni. Siapakah kita di antara hiruk pikuknya dunia, di antara milyaran penghuninya, dan siapa kita yang telah berikrar bersama dalam mitsaqan ghalizhon belasan atau puluhan  tahun yang lalu? 


Perlahan akan hadir sosok itu. Kita dengan segala keyakinan dan pikiran yang ada. Kita dengan segala kemampuan dan skill yang ada. Kita dengan segala tingkah laku, sikap dan perilaku yang ada. Kita dengan segala masalah, ujian hidup, dalam ruang dan waktu yang bernama keluarga bersama pasangan kita. Ya, itulah kita.


Semakin dalam rasa itu makin terasa. Hidup bukan hanya urusan harta dan cinta. Hidup adalah sebuah perjalanan luar biasa penuh makna dalam setiap nafasnya. Hidup adalah sebuah pengabdian dan cinta pada sang maha segalanya.


Manusia yang sadar akan siapa dirinya, untuk apa dia ada, dan akan kemana dia setelahnya, adalah manusia yang bahagia. Bahagia raga dan jiwanya. Tak pernah merasa paling benar. Belajar dan terus belajar demi kehidupan yang lebih baik dan bermakna. 


Mari kita tutup dengan firman Allah yang indah ini: 


ูˆูŽู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู‹ุง ู„ูุชูŽุณู’ูƒูู†ููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽูˆูŽุฏูŽู‘ุฉู‹ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุฅูู†ูŽู‘ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽุขูŠูŽุงุชู ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุชูŽููŽูƒูŽู‘ุฑููˆู†ูŽ


โ€œDan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.โ€

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah dari Ruang IGD